My Friend is my Pradana

You are deeply philosophical and thoughtful. You tend to analyze every aspect of your life.
You are intuitive, brilliant, and quite introverted. You value your time alone.
Often times, you are grumpy with other people. You don’t appreciate them trying to interfere in your affairs.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you’re so lucky, you don’t really have a lot of worries. You just hope for the best in life.
You’re sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.

You tend to be pretty tightly wound. It’s easy to get you excited… which can be a good or bad thing.
You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don’t stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start.

You are a free spirit, and you resent anyone who tries to fence you in.
You are unpredictable, adventurous, and always a little surprising.
You may miss out by not settling down, but you’re too busy having fun to care.

You are well rounded, with a complete perspective on life.
You are solid and dependable. You are loyal, and people can count on you.
At times, you can be a bit too serious. You tend to put too much pressure on yourself.

You are usually the best at everything … you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic “Type A” personality.

You are the total package – suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don’t always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don’t have as much going for them as you do.

You are very charming… dangerously so. You have the potential to break a lot of hearts.
You know how what you want, how to get it, and that you will get it.
You have the power to rule the world. Let’s hope you’re a benevolent dictator!

You are wild, crazy, and a huge rebel. You’re always up to something.
You have a ton of energy, and most people can’t handle you. You’re very intense.
You definitely are a handful, and you’re likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.

(ingatkah kau pernah menulis hal ini, kawan…)

RENUNGAN

Tiada seorangpun yang bisa kembali
dan mulai baru dari awal.
Setiap orang dapat mulai saat ini
dan melakukan akhir yang baru.

Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit,
tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan,
tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
kebahagiaan untuk air mata,
dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai “polisi tidur”,
ini akan memperlambatmu sedikit
tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata.
Jangan tinggal terlalu lama saat ada “polisi tidur”.
Berjalanlah terus.

Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh
apa yang kau kehendaki,
terimalah dan bergembiralah,
karena Tuhan sedang memikirkan
sesuatu yang lebih baik untuk dirimu.

Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk,
pertimbangkanlah artinya ….
Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan,
mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa
atau tidak terlalu keras menangis.

Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu,
apa yang dapat kau perbuat
hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai,
selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.
Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas.

Dalam kehidupan jarang akan kautemui
seseorang yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.
Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan,
ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.

Lebih baik kehilangan harga dirimu
kepada orang yang mencintaimu,
daripada kehilangan orang yang kaucintai
karena harga dirimu.

Kita terlalu membuang-buang waktu
untuk mencari-cari orang yang sesuai untuk dicintai
atau melihat kesalahan-kesalahan
pada orang yang telah kita cintai,
daripada malah seharusnya kita
menyempurnakan cinta yang kita berikan.

Jika kau sungguh-sungguh senang pada seseorang,
janganlah kau mencari-cari kekurangan-kekurangannya,
kau jangan mencari-cari alasan,
kau jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya.
Malahan, kau atasi kesalahan-kesalahan itu,
kau terima kekurangan-kekurangan itu
dan jangan kau hiraukan alasan-alasan itu

Anak Belajar dari Kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan Celaan.. ia belajar Memaki  jika anak dibesarkan dengan permusuhan… ia belajar bekelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan…ia belajar Rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan dan cacian…ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan…ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan Pujian…ia belajar Menghargai

Jika anak dibesarkan desngan sebaik baik peralakuan… ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman… ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan… aia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan KASIH SAYANG DAN PERSAHABATAN…

ia belajar menemukan CINTA DALAM KEHIDUPAN YANG ABADI



Alkhiyanah al-Kubra

Alkhiyanah al-Kubra (Pengkhianatan besar), begitulah DR. Thariq al-Suwaidan menyebut tingkah polah Abu Abdillah al-Shaghir di kota terakhir yang dimiliki muslimin, Granada. Dari sejak dia meminta bantuan tentara Kristen untuk membantai sesama muslim hingga penyerahan Granada dengan pemandangan penuh hina.

Sejarah menceritakan dengan sangat detail, suasana hari penyerahan Granada kepada kerajaan Kristen. Raja dan Ratu Kerajaan Kristen itu datang dengan semua tampilan kebesarannya. Bersama para pengawal dan pendeta. Mereka masuk ke istana al-Hamra’ yang menjadi simbol kebesaran Granada, siap menerima kota indah itu.

Dan inilah sambutan Abu Abdillah al-Shaghir. Hadiah-hadiah istimewa dia persembahkan kepada sang raja tersebut dan dia pun berlutut di hadapan Raja Kristen itu sambil mencium tangan sang raja.

Inilah pemandangan yang akan terulang di zaman manapun. Jika petinggi muslim sudah memberikan sambutan-sambutan istimewa di antaranya dengan pemberian hadiah dan memberikan penghormatan takzim di antaranya dengan ciuman bagi para musuh, maka itu artinya akhir dari semua perjuangan negeri dan kelompok muslimin itu. Walau masyarakat muslimin tidak tahu. Tetapi para pengkhianat itu sangat tahu langkah demi langkah penggadaian umat dan negeri. Dengan diciumnya tangan raja Kristen, maka Granada resmi berada di bawah Kerajaan Kristen Castille.

Tidak ada yang tersisa. Hanya harapan Abu Abdillah al-Shaghir yang masih tersisa. Tetapi ternyata semua harapan agar eksistensi muslim bisa dijaga, hanya mimpi di siang bolong. Keinginan menjaga yang sudah digapai, hanya keinginan tanpa bukti. Yang jelas dan terbukti adalah penyerahan Granada dan ciuman takzim untuk sang raja dengan menekuk lutut di hadapannya. Yang jelas dan terbukti adalah pengkhianatan umat.

Jangankan bisa memerintah Granada yang tunduk di bawah Kerajaan Castille –seperti yang permintaannya sebagai ganti penyerahan Granada- Abu Abdillah bahkan diminta oleh sang Raja untuk meninggalkan Granada. Hanya setahun setelah dia mencium tangan sang raja sambil menekuk lututnya. Dia harus meninggalkan Granada bahkan Andalus. Untuk selama-lamanya.

Abu Abdillah pun bergerak pergi bersama siapa saja yang ikut bersamanya. Hingga ketika sampai di sebuah bukit. Dia naik ke bukit itu, sambil memandangi Granada untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Kota besar, kuat nan indah yang telah dia jual dengan impian yang tak pernah terbukti. Matanya terus memandang.

Entah apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikiran Abu Abdillah al-Shaghir. Tapi jelas sangat banyak. Setidaknya, dari berbagai kenangan kebesaran. Hingga dia terusir dengan sangat hina, karena ulahnya sendiri. Air mata mulai meleleh di pipinya. Semakin deras. Dan semakin deras. Tangis pun meledak. Tak tertahankan. Banjir air mata hingga membasahi jenggotnya.

Abu Abdillah al-Shaghir terus menangis. Hingga dipecah oleh suara tegar sang bunda, Aisyah al-Hurrah. Kalimat yang jelas mengandung gumpalan-gumpalan murka seorang ibu terhadap anaknya yang tidak amanah kepada umat. Inilah kalimat sang bunda yang diabadikan oleh sejarah:

Menangis…menangis…menangislah…

Ya menangislah seperti wanita! Kerajaan yang tidak bisa kamu jaga seperti laki-laki:

Menangislah seperti wanita, kerajaan yang lenyap

Kamu tidak sanggup menjaganya seperti laki-laki

Sangat kuat kemarahan sang bunda. Melihat anaknya hanya bisa menangis saat semuanya telah terlambat. Saat umat Islam telah kehilangan semuanya. Semuanya karena ulah anaknya. Yang hanya bisa menangis seperti wanita. Penyesalan yang selalu datang terlambat dan tiada guna. Bukit saksi bisu penyesalan seorang pengkhianat umat itu masih dikunjungi orang hingga hari ini. Masih bisa dilihat, agar menjadi pelajaran bagi setiap pengkhianat umat. Apapun rencana matang pengkhianatannya, pasti akan melelehkan air mata penyesalan yang sering datang terlambat saat semuanya telah musnah.

Oleh masyarakat Spanyol bukit tersebut di sebut sebagai el último suspiro de Moro yang dalam Bahasa Arab diterjemahkan زفرة العربي الأخيرة (tangisan terakhir (raja) Arab). Ya, di situlah tangisan untuk terakhir kalinya. Terakhir. Setidaknya hingga saat tulisan ini digoreskan. Sudah 517 tahun, umat Islam belum kunjung bisa mengembalikan Andalus yang hilang.

Abu Abdillah terus berjalan menyeberang menuju Malila. Hingga akhirnya ia menetap di Fez, Maroko sampai meninggal.

Di Fez, sejarah kembali mengajari kita pelajaran besar nan penting. Sejarah kali ini memberikan sorotan tajamnya, agar setiap kita berhati-hati. Jangan menjadi pengkhianat umat. Seberapa pun hebatnya kita merencanakan dan menutupinya. Pengkhianatan akan berujung pada kehinaan sejak di dunia.

Fez menjadi kota yang bersaksi kepada kita tentang akhir dari kehidupan seorang pengkhianat umat. Tidak sebentar dia hidup tersiksa dalam kehinaan. 27 tahun hidup miskin terlunta-lunta. Bertahan hidup dengan harta-harta belas kasihan infak dan wakaf. Hartanya ludes, bahkan dia tak meninggalkan warisan apapun.

Inilah akhir dari kisah pengkhianat peradaban. Hidup penuh kehinaan, saat dulunya mulia. Hidup penuh kesengsaraan saat dulunya makmur. Hidup penuh siksaan, saat dulunya bahagia. Inilah pelajaran bagi para pengkhianat umat di sepanjang zaman. Terlalu pahit pengkhianatan itu untuk ditanggung umat. Kedzaliman menindih umat lebih dari yang dibayangkan bahkan oleh si pengkhianat itu. Dosa yang layak dipercepat adzabnya di bumi ini.

Dan inilah kisah tangisan pengkhianat umat. Yang hanya bisa menangisi tetapi semuanya telah terlambat. Tangisan yang tidak pernah mengembalikan kejayaan. Tangisan yang merupakan awal dari kehancuran.

Benarlah Nabiyullah Yusuf alaihis salam saat menegaskan, “… dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (Qs. Yusuf: 52) Semua ini di dunia. Bagaimana di akhirat kelak?! Semoga Allah mengampuni kita semua.

sumber

Test

hari pertama praktikum penerapan komputer